TENTANG NORMAL

Apa yang kita ketahui tentang normal ? Normal identik dengan kelaziman. Sesuatu yang dilakukan oleh kebanyakan orang atau sesuatu yang secara lazim diterima oleh masyarakat. Namun, dalam kehidupan tidak semua orang mendapat kesempatan untuk hidup “normal”. Ketika kita bercampur dengan banyak manusia di tempat ramai, semua terlihat sama dan normal. Akan tetapi, siapa menduga mungkin diantara mereka, ada yang unik dan ada yang sedang berjuang dalam hidupnya. Kesadaran bahwa kita penuh dengan kekurangan dan tidak selalu “normal” adalah salah satu sifat yang akan mendefinisikan nilai kita sebagai manusia di muka bumi ini.

Saya akan ambilkan contoh. Mungkin banyak diantara kita yang tidak mengenal seorang gadis bernama Kayla Montgomery. Mereka yang tinggal di Amerika Serikat mungkin mengenal Kayla sebagai pelari muda jarak jauh (5000 m) terbaik di negeri itu. Secara fisik, seolah tidak ada yang salah dengannya. Seorang gadis periang berusia 18 tahun itu ternyata menderita penyakit Multiple Sclerosis atau disingkat MS yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Jika anda tidak familiar dengan MS, penyakit peradangan sistem imun yang kemudian menyerang otak dan sistem saraf pusat tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Penyakit ini timbul dengan episodik neurologis defisit, artinya muncul berulang-ulang tapi tidak mematikan. Sejak didiagnosis oleh tim dokter 3 tahun yang lalu, Kayla seperti kehilangan semangat hidup.

Namun, seorang pelatih bernama Patrick Cromwell mendorong Kayla untuk berlari. Terdorong oleh keinginan kuat untuk terus mendalami bidang olah raga, Kayla memilih lari sebagai cabang olah raga pilihan. “Saya merasakan berlari dari semua keadaan, tidak merasakan apa-apa, melupakan kondisi yang saya miliki”, ujar Kayla saat ditanya alasannya. Berlatih selama 3 tahun bersama sang pelatih, Kayla berhasil menjadi seorang pelari yang memiliki kemampuan menakjubkan. Tidak hanya itu, saya sangat terinspirasi ketika mengetahui bahwa Kayla “harus” jatuh setiap kali dia menyentuh garis finish. Sang pelatih harus selalu menunggu saat lap terakhir dan menangkap Kayla saat menjelang finish. Sekali lagi, saya sangat terinspirasi.

Kenapa jatuh ? Ketika berlari tubuh kita menjadi panas dan respon syaraf terhadap gerakan tubuh cenderung berkurang. Bagi kita yang “normal”, tubuh menyesuaikan diri dan menghasilkan asam laktat untuk mengabarkan pada tubuh dan menahan syaraf agar tidak bekerja terlalu berat. Namun bagi penderita MS, semakin panas tubuh maka respon syaraf semakin turun tidak terkendali, sehingga bagi Kayla berasa seperti kakinya hilang. Saya tersentak saat melihat sebuah video Kayla berlari dan setiap kali finish selalu terlihat kesakitan dan berteriak “Mana kaki saya, mana kaki saya. Air, saya butuh air. Tolong saya, tolong saya”. Namun, kesakitan tersebut beranjur menghilang ketika tubuhnya kembali dingin.

Berlari dan jatuh adalah kebahagiaan dan resiko dimana Kayla rela membayarnya setiap kali dia melakukan itu. Keyakinannya membawanya menjadi pelari muda terbaik di North Carolina dan sebentar lagi tingkat Nasional. Itu adalah cerita Kayla ? Bagaimana dengan saya ? Atau kita ? Mudahkah kita menyerah karena kita tidak “sama” dengan orang lain. Menyerahkah karena kita belum memiliki yang dimiliki orang lain ? Sedihkah kita ketika kondisi tidak sesuai dengan yang diharapkan ?

Sekian banyak contoh di sekeliling kita untuk tidak menyerah dengan kondisi, so why we must ?

Sumber gambar: http://a.espncdn.com/

Riza-Arief Putranto, 16 Desember 2014.

2 thoughts on “TENTANG NORMAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s