BURCANGJO

BurcangjoBurcangjo adalah singkatan dari Bubur Kacang Ijo, sebuah makanan tradisional khas Indonesia, jika boleh dikatakan demikian. Tentu saja, pembaca sudah sangat familiar dengan jenis makanan ini. Di seluruh Pulau Jawa, bertebaran warung-warung sederhana yang menjual bubur ini bersama dengan menu-menu populer lain seperti Intel (Indomie Telur) dan Tante (Indomie Tanpa Telur). Bagi mereka yang melewatkan masa kuliah dahulu di kota Gudeg pasti tidak asing lagi.

Seperti pembaca ketahui bahwa masa-masa kuliah saya sudah lewat. Sehari-hari, saya menghabiskan waktu di depan komputer untuk mengetik, merancang penelitian, menulis paper hingga mengerjakan hal-hal terkait administrasi kantor. Setiap hari pula, saya dan sebagian besar warga Bogor harus berjibaku menerobos hujan dan bermacet ria setiap kali melintasi jalan-jalan protokol kota yang dipimpin Bima Arya ini. Sebagaimana pembaca yang telah terinformasi juga mengetahui bahwa seorang wanita selalu menunggu saya pulang kantor. Dialah istri saya yang senantiasa mengatur gizi sehari-hari. Dan salah satu dari gizi tersebut adalah Burcangjo hangat.

Saya ketika muda dahulu selalu ingin segala sesuatunya instan. Bubur Kacang Ijo yang saya makan dari Warung Intel biasanya tidak pernah saya habiskan. Okay, it’s my bad. Tapi semenjak saya mendapatkan Burcangjo spesial buatan istri, saya selalu menghabiskannya. Enak ? Tentu saja, karena dibuat dengan cinta, ujar salah seorang teman saya. Saya yakin istri saya membuat Burcangjo ini dengan menggunakan mangkuk, sedikit air, panci, santan, gula dan perlu kompor gas. Oh tentu saja, kacang ijo-nya harus direndam terlebih dahulu beberapa jam supaya lebih lunak sebelum dimasak. Resep ini didapat istri saya dari ibu mertua yang jago memasak.

Saat lembur malam hari atau ketika saya sedang bekerja overtime di rumah untuk catch up pekerjaan yang tertunda di kantor, Burcangjo selalu menjadi santapan supper saya pada malam hari. Rasanya yang manis serta disajikan hangat selalu membuat saya lebih bersemangat. Berbagai ide penelitian atau paper selalu muncul setelah semangkuk Burcangjo saya tandaskan. Bahkan saat saya menuliskan postingan ini, saya sembari menyantap Burcangjo.

Setiap pasangan atau keluarga atau bahkan pribadi memiliki apa yang disebut small happiness yakni hal-hal kecil yang membuat bahagia. Terkadang kebahagiaan kecil tersebut sangat berkesan dan mudah membuat kita bersemangat. Dalam keadaan cemas dan risau, saya mencoba menenangkan diri dengan makan Burcangjo buatan istri. Ini adalah kebahagiaan kecil yang membuat saya lebih produktif lagi.

Saya teringat cerita Ibu Ani Yudhoyono saat bertemu beliau di Paris tahun 2012 silam. Beliau berkelakar mengenai Bapak Susilo Bambang Yudhoyono saat masih menjadi perwira TNI pulang membawa bubur kacang ijo dari kantor. Beliau memperolehnya dari rapat dan dibungkus serta dibawa pulang untuk diberikan kepada kedua anaknya. Saat itu, saya hanya bisa tertawa tanpa memahami makna dari tindakan beliau.

Ternyata, rasa sayang itu wujudnya dapat bermacam-macam. Dukungan dan kasih sayang keluarga lah yang membuat seseorang itu berhasil dan sukses. Dukungan dan kasih sayang keluarga lah yang membuat seseorang bertahan ketika mengalami kemalangan. Dan, di keluarga kecil saya, Burcangjo adalah satu dari bentuk kasih sayang itu. Terima kasih pumpkin, lain kali coba dicampur ketan hitam yuk.

Riza-Arief Putranto, 22 Februari 2015.

One thought on “BURCANGJO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s