GURU SABAR

Salah satu momen terbaik untuk bertambah bijak, tentunya adalah hari ini, dimana usia saya berkurang. Banyak sekali rekan, sahabat dan keluarga yang mengucapkan doa juga harapan di usia yang sudah tidak muda lagi ini. Saya sangat berterima kasih atas segala atensi yang diberikan, baik melalui socmed maupun jabat tangan langsung. Sudah beberapa lama saya tidak menengok blog kesayangan dikarenakan kesibukan di satu dan lain hal.

Melalui postingan kali ini, ada baiknya, saya bercerita tentang memaknai ulang tahun sebagaimana saya sering tuliskan di postingan-postingan yang lalu. Apakah itu ? Saya ingin memaknai kata “sabar”. Sebuah kata yang mudah sekali terucap di bibir kita, saat kita ingin mendukung orang lain di kala tertimpa musibah, atau sekedar menenangkan orang lain di kala emosinya meluap. Sabar adalah kata yang sering kita ucapkan di waktu-waktu pribadi kita berdoa juga di kala diri sendiri dalam keadaan tidak menentu. Akan tetapi, mudah diucapkan belum tentu mudah dilaksanakan. Saya kira sebagian besar orang setuju akan hal tersebut.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang ustadz yang kebetulan sedang makan cendol seusai ibadah Jum’at. Saya yang memang juga sedang mengidamkan cendol tanpa sengaja bertukar kata dengan beliau. Tukang cendol gendong itu setiap Jum’at selalu melaksanakan ibadah di masjid tersebut. Tentu saja pertemuan ini terjadi secara alami. Dari percakapan sederhana tersebut, sang ustadz berceletuk betapa jemaah tidak sabaran seusai sholat Jum’at untuk segera kembali ke kantor atau sekedar menuju warung agar tidak antri makan siang. Saya menimpali dengan berujar bahwa bersabar itu sulit namun mengucapkan kata sabar itu mudah. Sang ustadz mengiyakan apa yang saya katakan sembari menanyakan siapa guru sabar saya saat ini. Serta merta saya bingung untuk menjawabnya. Jujur, saya tidak memiliki tokoh idola saat ini terkait belajar kesabaran.

Sang ustadz tersenyum simpul. “Tidak usah bingung mas, guru sabar itu ada di sekitar kita”. Siapakah mereka? Ustadz tersebut melanjutkan, “Guru sabar kita adalah mereka yang terkena musibah atau cobaan”. Terkadang tanpa sadar kita mengucapkan kepada mereka untuk bersabar namun kita sendiri masih dalam kondisi yang jauh lebih baik dari mereka. Kita masih tidur di kasur yang empuk meminta agar pengungsi Gunung Sinabung untuk bersabar. Logikanya terbalik. Merekalah guru sabar kita, dimana dalam kondisi sulit mereka masih mau tidur beralaskan tikar dan bersabar menunggu bencana itu usai.

Ingatan saya kembali ke masa-masa Gempa Besar Yogyakarta tahun 2007 silam, dimana saya terketuk untuk ikut dalam tim relawan di daerah Klaten. Ingatan ini juga membawa saya kepada Bencana Letusan Gunung Merapi tahun 2010, tepat 2 bulan sebelum saya menikah. Saat itu, saya juga turut dalam tim relawan. Bencana-bencana tersebut mungkin lambat laun sudah dilupakan banyak pihak, namun mereka yang terkena dampak dan “telah bersabar” melaluinya tentu tidak akan melupakan momen yang merubah hidup mereka.

Saya merenungi ucapan ustadz tersebut baik-baik. Sudah berapa kali kita mengucapkan kata “sabar” kepada orang lain namun hanya di bibir saja. Berapa kali sesungguhnya kesabaran itu benar-benar telah ada di sanubari kita. Saya tidak ingin mendiskreditkan siapapun yang turut berbelasungkawa dengan meminta mereka yang tertimpa musibah untuk sabar. Namun, alangkah lebih baiknya, jika saat kita mengucapkan itu kita juga mawas diri. “Terima kasih bapak/ibu, telah mengingatkan dan mengajarkan saya untuk bersabar”.

“With age comes wisdom” – Oscar Wilde

Sumber gambar: https://rifqimajinatif.files.wordpress.com

Riza Arief Putranto, 12 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s