SEGALA YANG TIDAK PERNAH CUKUP

Seorang Sultan sedang berjalan bersama rombongan istana melewati lahan pertanian di wilayahnya. Beliau melihat seorang petani miskin yang sedang tidur di sebuah gubuk. Angin sepoi-sepoi menghias hari yang cerah itu. Sultan tersebut berfikir akan enaknya kehidupan sang petani yang dapat tidur nyenyak seolah tanpa beban. Sultan teringat berbagai permasalahan Kraton yang membuatnya tidak bisa tidur dan saat ini mengantuk. Sang Sultan pun kemudian berandai-andai jika beliau menjadi petani dan timbul ide untuk betukar posisi. Sang Sultan kemudian menawarkan kepada petani tersebut untuk menggantikan peran sebagai Sultan di Kraton tersebut. “Mari bertukar tempat wahai petani yang baik, sehari saja, sehingga saya bisa merasakan nikmatnya hidupmu. Dan kamu akan bisa menikmati rasanya menjadi raja”, ujar Sang Sultan.

Sang petani yang masih tidak percaya mengikuti saja titah Sultannya itu. Mimpi apa sang petani tersebut sehingga tiba-tiba kehidupannya berubah drastis. Mereka bertukar pakaian dan masing-masing menjalani peran barunya. Sang Sultan yang telah menjadi petani ingin tidur siang. “Sekarang hidup saya tenang, saya akan nikmati tidur ini”. Tak berapa lama setelah tidur, perut Sultan terasa lapar. Beliau kemudian bangkit dari tidur dan melihat subur dan asrinya lahan pertanian milik sang petani. Beliau berniat memetik buah-buahan di ladang tersebut ketika serta-merta hujan badai datang. Badai tersebut merusak ladang dan juga gubuk sang petani. Sang Sultan bergumam, “Bagaimana saya bisa makan? Gubuk ini juga sekarang porak poranda”. Karena panik, Sang Sultan berfikir untuk menemui sang petani di Kraton untuk kembali bertukar posisi.

Sementara itu di Kraton, sang petani yang berpakaian seperti Sultan sedang menikmati makanan mewah, dikelilingi dayang cantik dan pengawal yang gagah. Sang petani bahagia dan ingin agar kondisi ini berlangsung selamanya. Namun, tiba-tiba, seorang pengawal Kraton mengabarkan bahwa pasukan musuh telah menyerang perbatasan Kraton sementara prajurit Kraton belum disiapkan sama sekali. Sang petani yang menjadi Sultan tersebut panik karena tidak tahu harus berbuat apa. Sang petani tersebut bergumam, “Ah, aku harus ketemu sama raja itu dan meminta kembali bertukar peran”.

Sang Sultan dan petani pun bertemu di hutan dan kembali bertukar ke posisi mereka semula. Sang Sultan kembali ke Kraton mendapati Kratonnya sedang diserbu musuh. “Apa-apaan ini, kenapa petani itu tidak memberitahu saya”. Dengan gerak cepat, beliau lalu menginstruksikan strategi kepada pasukannya untuk menghalau musuh.  Di tempat lain, sang petani mendapati ladangnya porak-poranda. “Kurang ajar, Sultan itu tidak mengabarkan padaku kalau ladang dan rumahku rusak”. Dengan sigap, sang petani memperbaiki gubuk dan juga ladangnya. Keduanya, baik Sang Sultan maupun petani bergumam, “Untunglah bisa kembali ke posisi semula. Walau ada masalah, setidaknya masih bisa diatasi karena telah berpengalaman menghadapinya”.

Cerita diatas terlihat klise namun itu terjadi dalam kehidupan kita. Saya menyebutnya sifat manusia “Segala yang tidak pernah cukup”. Seperti halnya Sultan dan petani tersebut, kita sering berkhayal ingin menjadi ini dan itu. Seorang pegawai ingin menjadi pengusaha. Seorang pengusaha ingin menjadi politisi. Seorang politisi ingin menjadi artis. Seorang artis ingin menjadi pengusaha. Hal tersebut bagai lingkaran yang tidak pernah ada ujungnya. Kita selalu ingin kostum orang lain hanya karena terlihat lebih indah dibanding milik kita. Kita tidak pernah tahu bahwa dibalik kostum itu terdapat resiko yang ditanggung oleh sang pemilik kostum. Hanya Sultan yang tahu bagaimana mengatur Kratonnya dan menghalau musuh. Hanya petani yang tahu bagaimana mengolah ladang dan merawat tanaman pertaniannya.

Pada akhirnya, tidak ada pilihan yang lebih enak dalam kehidupan kita. Yang nyaman adalah ketika kita mencintai pekerjaan, menikmati setiap prosesnya dan benar-benar bersyukur atas hal tersebut. Kesuksesan dan kebahagiaan seseorang tidak bisa hanya diukur dari pencapaian materi. Klise lagi. Memang iya. Namun, rasanya memang demikian kenyataannya. Sekaya apapun seseorang, tanpa rasa syukur, dia akan selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, meski hidup sederhana, namun jika disyukuri, kita akan selalu merasa cukup. Bukan berarti kita tidak boleh berjuang dan mempunyai impian tinggi. Bermimpi dan berjuang itu harus, namun arahkan untuk mengumpulkan amal sebanyak mungkin.

Seorang sahabat saya berujar, “Ah itu mah ngomong doang mas, menjalaninya sulitnya setengah mati. Sampeyan selalu nulis tentang postingan berbau motivasi syukur”. Saya tidak menyanggah hal tersebut. Memang benar, melaksanakan syukur itu sulit. Akan tetapi bagaimana kita bisa melaksanakannya, jikalau kita tidak sering mengingatkan diri sendiri meski lewat tutur kata saja. Segala sesuatu diawali dari niat. Sudahkah kita bersyukur hari ini?. Alhamdulillah.

Sumber gambar: liveapassionatelife.files.wordpress.com

Riza-Arief Putranto, 22 April 2015.

2 thoughts on “SEGALA YANG TIDAK PERNAH CUKUP

  1. Hallo kak saya masih jadi mahasiswa yg belum terlalu mengenal dunia kerja, mau tau dong pandangan kakak tentang hal ini
    Pekerjaan itu kan umumnya bakalan jd rutinitas sehari”, secinta apapun kita sama pekerjaan bakalan ngalami juga yg namanya jenuh atau bosen. Karna emang sifat manusia itu ada waktu” dimana ia bisa menjadi jenuh, di Al Qur’an pun ada
    Nah gimana kalau seseorang yg udah punya pekerjaan memulai lg usaha baru seperti wirausaha, contoh artis jd pengusaha, atau yg kerja jadi staff belajar lg biar berubah posisi. Jadi kerjaannya gak berenti di posisi itu aja.
    Bukannya ketika seseorang memutuskan untuk melakukan hal demikian, orang itu bakalan mengalami kesulitan bahkan kegagalan yg bisa memacu untuk belajar hal baru untuk meningkatkan kualitas diri ya kak? Apalagi untuk orang yg suka tantangan.
    Itu aja yg mau saya tanyakan. Nah menurut pandangan kakak gimana?

    • Halo Jesika. Sebagai manusia wajar jika merasa bosan akan apapun, termasuk pekerjaan. Sebagian orang adalah risk taker (pengambil resiko), sebagian lain safe player (bermain aman). Pengambil resiko senang berpindah-pindah pekerjaan, safe player akan menekuni 1 pekerjaan. Itu akan Jesika pahami nanti karena pekerjaan kita berkaitan langsung dengan hajat hidup keluarga. Namun, itu kembali ke pribadi masing-masing. Semoga bisa membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s