THE ARCH NEMESIS

The Arch Nemesis adalah bahasa Inggris untuk musuh bebuyutan. Istilah “Arch Nemesis” sepertinya lebih terkenal di antara hubungan persahabatan wanita walaupun tentu ada pula di dunia pria. Dua sahabat saya (tentu saja wanita) bercerita tentang pengalaman hidupnya tentang bullying dan arch nemesis. Tentu saja, saya hendak berbagi cerita ini karena memang diizinkan dan memang menurut saya pantas untuk dibagi.

Alkisah, ada dua sahabat wanita yang kurang akrab pada masa SMU. Boleh dibilang, mereka berdua musuhan satu sama lain. Salah satu dari wanita tersebut, sebut saja Miss A adalah bintang SMU (highschool star). Miss A adalah ketua OSIS, ketua kelompok Filateli, bintang kelas, dan pemegang juara pidato bahasa Inggris. Singkat kata, Miss A merupakan kebanggaan sekolah. Selama 3 tahun menjalani masa sekolah, Miss A merasa tinggi hati dan lupa untuk bersikap rendah hati. Itulah saat, Miss A selalu mem-bully banyak siswa termasuk salah satunya sahabat saya yaitu Miss B. Miss B adalah siswa yang tidak populer. Dia memakai kawat gigi, kacamata tebal dan sangat pemalu. Nilai-nilainya di kelas pun tidak bisa dibilang superior, medioker kelas bawah, begitu katanya.

Bagaimana bentuk bullying-nya? Sebagaimana saya pernah berada di SMU, tentu saja dalam wujud ejekan, hinaan, hingga mengucilkan Miss B dari kelas. Miss A membentuk girly group (seperti sobatan antar wanita) dan tentu saja mengekslusifkan diri dengan hal tersebut. Miss A merasa masa SMU adalah masa yang terbaik sementara Miss B merasa masa SMU adalah masa terburuk.

Seperti sering saya baca dan cermati pada berbagai pengalaman korban bully, mereka cenderung kemudian berjuang lebih keras. Self esteem yang rendah menjadikan mereka pejuang yang luar biasa. Semasa kuliah Miss B berusaha memperbaiki penampilan, berjuang di kuliah, dan akhirnya lulus dengan nilai sempurna. Miss B bahkan pernah menjadi mahasiswa berprestasi di kampusnya. Bagaimana dengan Miss A? Kepuasan masa SMU membuat Miss A menjadi pribadi yang merasa cukup. Semenjak lulus SMU, Miss A menjalani masa kuliah biasa-biasa saja dan memutuskan menikah setelah wisuda.

Beberapa tahun berlalu setelah itu, keduanya tidak saling bertemu semenjak lulus SMU. Berkat rahmat Tuhan, saya dipertemukan dengan keduanya di masa yang berbeda. Miss B adalah seorang sahabat yang saya kenal selama studi di Prancis, sementara saya bertemu Miss A dalam sebuah acara reuni kuliah dahulu. Miss B kini adalah seorang manajer di kantor terkemuka di Jakarta dengan gaji tinggi sementara Miss A adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak yang berbahagia. Kembali berkat rahmat Tuhan, mereka dipertemukan pada suatu kesempatan.

Kita semua tahu bahwa bullying bukanlah hal yang baik. Tindakan itu meninggalkan kebencian di hati penderita, sementara biasanya meninggalkan penyesalan pada pelaku bullying. Hal itu terjadi pada kedua sahabat saya tersebut. Beberapa menit sejak bertemu Miss A langsung meminta maaf atas segala hal yang dia perbuat selama masa SMU, sementara Miss B berusaha untuk memahami bahwa permintaan maaf tersebut keluar dari seseorang yang dahulu begitu populer. Miss B sekarang bukanlah dirinya yang dahulu. Kepercayaan diri yang tinggi serta penampilan yang chick adalah konsep baru. Miss B mengungkapkan betapa dahulu dia sangat iri dan sangat membenci Miss A.

Namun Miss B juga mengakui bahwa tanpa tindakan bullying itu, dia tidak akan menjadi pribadi yang lebih kuat dan sukses seperti sekarang ini. Miss A kemudian menimpali bahwa masa-masa itu dia masih anak muda yang tidak tahu apa-apa. Miss A pun mengakui bahwa dia tidak bangga dengan apa yang dia lakukan dulu. Miss A lega dengan apa yang sudah dicapai oleh Miss B. Sementara Miss A menyatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu kebahagiaannya walaupun secara materi dia tidak memiliki segalanya.

Pengalaman dua sahabat saya tersebut membuktikan sekali lagi bahwa siapapun kita tidak semestinya merendahkan orang lain dengan tindakan bullying. Kita tidak pernah tahu kapan, orang tersebut bisa saja balik membantu kita di masa sulit. Semoga kedua sahabat saya malah berbalik menjadi sahabat sekarang bukan lagi arch nemesis.

Pulling someone down will never help you reach the top

Sumber gambar: http://i.huffpost.com/

Riza-Arief Putranto, 24 Mei 2015.

2 thoughts on “THE ARCH NEMESIS

    • Merci Arie. Kita tidak pernah tahu masa yang akan datang. Kisah dua sahabat itu kembali mengingatkan akan pentingnya saling menghormati dan saling menghargai🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s