KEMBALI MENULIS SEPERTI ANAK-ANAK GEMAR BERCERITA

Menulis bukanlah hal yang mudah untuk sebagian orang. Menulis adalah kegiatan yang menggabungkan strukturisasi ide, logika berfikir dan eksekusi ide. Orang bilang menulis menghabiskan lebih cepat energi yang seharusnya kita simpan selama seharian berpuasa. Proses berfikir sangat dominan ketika kita menulis. Dan setiap kali kita berfikir untuk 1 menit, sekitar 144 kalori terbakar. Itu setara dengan berlari mengelilingi lapangan sepak bola selama 10 menit. Strukturisasi ide terlihat seperti kegiatan yang tidak membutuhkan banyak gerak. Diam selama beberapa menit, membiarkan kursor di Word berkedip, menyusun kata-kata yang akan diketikkan, mengirimkan pesan kepada jari-jari kita untuk segera mengetik adalah serangkaian chain of command yang mampu menghasilkan pada akhirnya kalimat-kalimat “dahsyat”.

Terkesan rumit bukan? Sesungguhnya iya, namun pada akhirnya hal tersebut seperti menaruh anak kecil dalam sebuah wahana petualangan dan meminta dia untuk menceritakan kegembiraannya menaiki wahana tersebut. Hanya saja, ceritanya dituangkan dalam bentuk bahasa yang mana semua orang bisa memahami. Saya tidak perlu mengungkapkan betapa gemarnya saya menulis. Sudah berulang kali dalam berbagai sesi dan postingan di blog saya menyatakan hal tersebut. Sebut saja media blog, Twitter, LinkedIn, berbagai website telah menjadi kanvas-kanvas bisu kalimat-kalimat yang saya tuliskan. Seorang sahabat saya pernah berkata, “Saya akan menulis meskipun hanya dibaca oleh satu orang, karena menulis itu candu”. Tulisan pun tidak berhenti pada artikel populer non ilmiah. Artikel ilmiah baik dikancah nasional dan internasional pun tidak luput dari sasaran. Betapa gemarnya menuliskan sesuatu hingga saya kadang tidak ingat berapa materi telah dikucurkan untuk publikasi dalam bidang yang sangat spesifik.

Saya mulai menulis pada saat SMU, kira-kira 18 tahun silam. Mading sekolah hingga buletin mingguan tidak luput dari sasaran. Saya tidak mempedulikan apakah khalayak ramai akan membaca tulisan tersebut. Produk akhir berupa rentetan kalimat di secarik kertas tersebut merupakan kebahagiaan saya. Kegembiraan itu selayaknya seorang anak mendapatkan hadiah dari orang tua. Kita tidak harus menjadi juara dalam kompetisi menulis agar meyakinkan diri bahwa kita bisa menulis. Penulis tidak jauh berbeda dengan pelukis atau pemahat patung. Hanya media yang digunakan saja berbeda. Pada akhirnya, mereka semua menghasilkan karya seni. Dan karya seni tersebut ada yang dicapai untuk kepuasan hati dan ada pula untuk kepuasan materi. Baik satu atau lain hal tidaklah buruk.

Apa yang akan kita tulis sangat menentukan pandangan orang terhadap kita. Sebagaimana sering dilantunkan oleh banyak orang, kata-kata itu lebih tajam dibandingkan pedang. Hal-hal yang kita tulis berpengaruh terhadap pembaca. Pada akhirnya, kita sendirilah sebagai penulis untuk memilih kata-kata dengan bijak, sama halnya seperti meletakkan kata-kata tersebut pada tempat yang tepat sehinggamenghasilkan kalimat yang spektakuler. Seperti anak-anak yang gemar bercerita, marilah terus menulis karena ide-ide tulisan tersebut bisa saja bermanfaat untuk orang lain.

Words are mightier than the sword – Cardinal Richelieu, 1892

Sumber gambar: http://miefaza.com/

Riza-Arief Putranto, 3 Juli 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s