KARENA POSITIF LEBIH BAIK DARI NEGATIF

Zaman sudah berubah. Begitu kata kakek sejak saya masih kecil. Zaman sudah berbeda. Begitu keluh ayah ketika saya remaja. Zaman sudah aneh. Begitu ungkap saya saat ini. Betapa tidak, zaman sekarang hal-hal yang tadinya privatif sifatnya, kini menjadi santapan publik. Ya, kita semua tahu, betapa media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan mudah, kita bisa berbagi tentang kesukaan, perasaan hari ini, apa saja yang kita makan, kisah cinta hingga bahkan yang merambah ke sesuatu yang lebih serius seperti opini terhadap hal-hal berbau publik. Suka tidak suka, kita hidup di zaman ini. Adaptasi dan penyikapan yang baik tentu diperlukan.

Malam ini, saya sedang duduk di depan komputer sembari “kepo” membaca update dari status teman-teman di sebuah media sosial. Sepertinya di belahan bumi Eropa sana, ada seorang sahabat yang juga sedang online di depan laptopnya dan menyapa saya, “Bro, belum tidur? Di Indonesia kan sudah jam 12 dini hari”. “Ah, belum bro. Ane masih belum mengantuk”, balas saya. Sahabat tersebut menimpali, “Baiklah bro. Anyway, ane lihat postingan ente tidak pernah nimbrung di masalah-masalah terkini bangsa, kayak kebakaran lahan, korupsi, kasus-kasus SARA dan lainnya. Paling-paling tentang makanan, foto-foto cakep sama lelucon”. Sembari tersenyum, saya menjawab, “Karena positif lebih baik dari negatif bro“.“Maksudnya bro? Gagal paham ane“, timpal sahabat saya.

“Bro, lihat saja, yang responsif terhadap subyek-subyek yang ente maksud kan sudah banyak. Sebagian besar negatif pula. Susah untuk membedakan yang mana yang benar dan yang salah. Karena ketidaktahuan itu, ane lebih memilih untuk menikmati media sosial dengan cara ane, bro“, jawab saya. “Tidak ikut berkomentar dalam media sosial bukan berarti tidak peduli dan tidak kontributif dengan keadaan bro. Tiap orang pasti punya caranya masing-masing. Lagipula ini dunia maya. Siapa yang bisa menjamin bahwa setiap informasi yang diberikan adalah valid“, tambah saya. Sahabat saya kemudian membalas, “Boleh juga pemikiran ente bro. Jadi kembali ke user-nya yah“. Saya membalas dengan smiley dan diskusi kami lanjutkan ke hal lain.

Jika media sosial diibaratkan dengan sebilah pisau, maka berbahaya atau tidaknya pisau tersebut tergantung kepada pemilik. Di tangan seorang chef, sebilah pisau dapat menghasilkan masakan yang tidak hanya lezat namun juga masterpiece. Lima tahun yang lalu di sebuah kursi taman di Jardin de Tuileries Paris, seorang kakak pernah berujar kepada saya, “Saya tidak ambil bagian dalam perkembangan media sosial dik. Saya tidak pernah membuat akun media sosial apapun. Lihat saja beberapa tahun ke depan, pekerjaan kita bertambah, yaitu mengatur perasaan kita. Perasaan dari pengaruh opini atau postingan orang-orang yang bahkan tidak kita kenal, yang mungkin berseberangan pendapat dengan kita, dan mungkin disampaikan dalam bahasa yang kita anggap kurang baik. Ingat dik, bahasa tulisan itu, kita sendiri yang melantunkan intonasi dan nada ketika membacanya. Emosi kita dipermainkan saat itu.“ Sampai hari ini sang kakak tidak pernah aktif dalam media sosial. Itulah kenapa hanya sms dan telpon yang bisa saya lakukan untuk menghubungi beliau.

Saya mungkin tidak seekstrim beliau. Sore hari tadi, saya kebetulan menyimak sebuah ulasan di televisi bahwa media sosial menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Saya kira hal tersebut benar. Di sisi lain, media sosial juga memiliki segudang keuntungan seperti kemudahan berbagi informasi, komunikasi dengan sahabat dan keluarga dengan biaya murah, hingga hubungan profesional hingga dunia internasional yang kini fasih dilakukan. Pada akhirnya, semua kembali kepada pengguna. Saya pribadi selalu mengingat apa yang diungkapkan para motivator itu bahwa positif itu baik, kecuali positif hamil di luar nikah, sehingga saya memilih menggunakan media sosial secara positif saja. Bagaimana dengan anda?

“The harder you try to be positive, the harder you resist being negative; and whatever you resist is the thing that persists” – Teal

Sumber gambar : http://youthvoices.net/

Riza-Arief Putranto, 24 Oktober 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s