RASA RINDU DAN NASIHAT TENTANG PELUKAN

 

dieng_33

Masih teringat jelas di ingatan, betapa kehidupan di Negeri Paman Zidane dulu merupakan masa terbaik dari hidup saya. Masih terbayang jelas di hadapan, warna apartemen saya yang sangat khas. Masih tercium dengan baik, aroma dari roti croissant untuk sarapan pagi. Rasanya seperti baru kemarin sore saya tiba di Prancis. Sebuah postingan sahabat di media sosial yang mengingatkan akan pemilihan ketua baru PPI Prancis, membuat pikiran saya melayang jauh pada masa lalu. Kemudian saya tersadar kembali, tujuh tahun telah berlalu sejak pertama kali menginjakkan kaki di Eropa.

Saya sangat menyadari kehidupan 18 bulan terakhir sangat berbeda. Kemacetan dan cuaca yang lembab dan terik sudah menjadi sarapan wajib. Rutinitas mengharuskan variasi dalam hidup ini sedikit terkekang. Timbunan pekerjaan membuat hobi lama, membaca buku, terlupakan. Bahkan waktu untuk sedikit berkeluh kesah, berbagi cerita serta menyampaikan kisah pemicu semangat melalui blog pun mulai berkurang. Sangat negatif memang. Saya mungkin tidak sendirian mengalami fase ini. Fase dimana rasa rindu itu menakjubkan. Rekan-rekan seperjuangan di Negeri Heksagon sana dulu mungkin akan setuju dengan saya.

Dahulu, saya berfikir “move on” dari masa berpetualang di benua biru yang lalu akan mudah. Ternyata relatif sulit. Separuh hati saya sepertinya masih tertinggal disana. Di sebuah apartemen lantai 3 Résidence Agropolis yang berwarna merah muda itu. Mungkin saat itu saya terburu-buru berkemas sehingga lupa bahwa separuh hati saya tercecer di bawah kolong tempat tidur. Saat ini, saya sudah tidak memiliki kenalan di Résidence tersebut untuk dimintai tolong menengok ke bawah kolong apartemen gedung B nomor 24. Butuh waktu 7 bulan lamanya agar kemampuan mengemudi saya kembali seperti semula. Butuh 12 bulan lamanya agar saya kembali memaklumi budaya serobot di negeri ini. Butuh 14 bulan lamanya agar saya dapat menikmati ibukota yang semakin penuh sesak dengan kendaraan. Butuh berapa lama lagi agar saya sadar bahwa kini kehidupan sudah kembali ke ibu pertiwi.

Ingatan saya kembali kepada “mantan pembimbing” S3 dahulu yang kebetulan mengunjungi saya di Bogor pada bulan November silam. Kami terikat kerjasama penelitian satu sama lain, sehingga dia merasa wajib untuk mengunjungi saya. Selain itu kami terikat pula “janji” untuk menulis publikasi bersama. Ketika beliau menanyakan sampai dimana pekerjaan saya, hanya kata maaf yang bisa saya ungkapkan padanya. “Adaptasi ini masih berlangsung. Kesibukan saya bertambah. Namun saya berjanji untuk berusaha sebaik mungkin melaksanakan kewajiban ini”, ujar saya beberapa kali. Beliau tersenyum dan menjawab, “Saya tahu. Saya tidak datang untuk menagih seperti penagih hutang. Itu bedanya antara rekan sesama profesi dengan hubungan atasan bawahan. Saya tidak menginstruksikan. Saya hanya bertanya”.

Beliau kemudian melanjutkan, “Saya menyampaikan ini, sebagaimana pembimbing saya dahulu mengajarkan ketika saya masih muda. Kamu tahu, saat ini kamu berusaha untuk memeluk lebih besar dari jangkauan pelukanmu. Jangan lakukan itu. Jika kamu berusaha untuk membawa barang lebih banyak dari jangkauan tangan dan dadamu tentu barang-barang tersebut akan berjatuhan. Pada akhirnya kamu akan lebih banyak kehilangan daripada mendapatkan sesuatu”. Saya tersenyum dan melihat padanya. Beliau menimpali kembali, “Ah, saya tahu. Saya tahu. Kalimat tadi terlalu indah saya ucapkan. Kamu tahu kalau saya juga selalu disibukkan dengan pekerjaan saya. Sangat naif jika saya menasehati kamu, begitu ya. Tapi, kalimat itu masih saya ingat sampai sekarang. Disampaikan oleh seorang guru saya dan sekarang saya menyampaikannya padamu. Kita akan sering terbelokkan ke arah ingin memeluk lebih banyak. Tapi jika kamu ingat kembali kalimat ini, kamu akan bisa selalu kembali ke jalan yang benar. Seperti saya.”

Dialog tersebut merupakan dialog terbaik yang pernah saya peroleh sejak saya kembali dari Prancis. Saya sadar betul bahwa Bogor adalah persinggahan selanjutnya dalam hidup saya. Kali ini, saya harus mengoptimalkan pelukan saya kepada Bogor dan berusaha memetik yang terbaik darinya. Semoga saja mereka yang menemukan separuh hati saya di Prancis akan mau membawa serta ke Indonesia dan menyampaikannya kepada saya. Betul kata anak-anak muda itu, move on itu berat sekali.

“Kamu tahu, saat ini kamu berusaha untuk memeluk lebih besar dari jangkauan pelukanmu. Jangan lakukan itu. Jika kamu berusaha untuk membawa barang lebih banyak dari jangkauan tangan dan dadamu tentu barang-barang tersebut akan berjatuhan. Pada akhirnya kamu akan lebih banyak kehilangan daripada mendapatkan sesuatu”

Sumber gambar: http://adikristanto.net

Riza-Arief Putranto, 20 Desember 2015.

2 thoughts on “RASA RINDU DAN NASIHAT TENTANG PELUKAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s