THE IMPERFECT HUMAN

 

 

me_252_contribution

Sejak menulis artikel terakhir di blog ini pada Desember 2015 lalu, enam bulan telah berlalu. Biasanya saya pandai bercerita. Biasanya saya pandai merangkai kejadian-kejadian kecil dalam kehidupan sehari-hari menjadi sebuah motivasi untuk di share. Setidaknya begitulah opini dari beberapa sahabat saya. Namun, enam bulan terakhir jari saya tidak mampu menjadi sinkron dengan otak. Sesungguhnya banyak kejadian yang saya alami, yang bisa saya ceritakan, namun tidak terlaksana. Saya hanyalah seorang manusia biasa yang menjalani rutinitas sehari-hari sebagaimana orang bekerja pada umumnya. Sejak lama, rutinitas ditambah segala carut marut lain seperti kemacetan serta panas terik cuaca terkadang dapat mendorong timbulnya stress hingga stagnasi kreativitas.

Seorang sahabat A selalu menanyakan kapan saya akan kembali menulis. Dia setia menunggu kapan artikel blog “biasa” ini muncul. Dia bahkan berjanji akan men-share postingan ini. Saya tersenyum saja saat dia berkata seperti itu. Sesungguhnya ada satu uneg-uneg yang ingin saya ungkapkan. Banyak yang mungkin berfikir bahwa saya gagal move on jika saya kait-kaitkan ­uneg-uneg ini dengan kehidupan saya yang lalu di Prancis. Ya dan tidak. Iya, karena memang ada hubungannya dan tidak, karena saya sudah merangkul kehidupan saat ini di Indonesia. Seorang sahabat B juga dahulu sangat ingin mendengarkan bagaimana saya beradaptasi di Indonesia dimana saat ini sahabat saya ini tinggal di Negeri Napoleon dan mengajar di sebuah universitas disana. Sayangnya kami berdua tidak berkesempatan untuk memiliki momen agar cerita saya terdengar olehnya.

Saya mengalami 1,5 tahun “tersulit” dalam kehidupan saya semenjak kembali dari Heksagon*. Jika seseorang harus melihat dan “menikmati” segala uneg-uneg saya, dia adalah istri saya. Seseorang yang selalu menemani dan mendengarkan di kala senang ataupun sedih. Hingga hari ini, saya masih merasa useless. Dengan gelar dan penghargaan setinggi langit, saya masih sering merasa kecil hati jika saya diminta mengungkapkan kontribusi apa yang sudah saya berikan kepada negeri bernama Indonesia. Kadang saya sering bertanya, benarkah saya sudah menyelesaikan studi saya? Ataukah sebenarnya pembelajaran saya yang sesungguhnya baru dimulai? Apakah saya sendirian mengalami ini? Ataukah ada rekan-rekan lulusan LN di luar sana merasakan hal yang sama? Apakah ini gagal move on? Saya sendiri merasa sudah all out tapi rasanya belum di zona yang tepat. Dimana karya riset saya? Dimana pemikiran-pemikiran brilian yang sekiranya dapat membantu menyelesaikan permasalahan di bidang saya? Ataukah saya terlalu idealis? Benarkah saya harus menurunkan standar saya?

Terlalu banyak pertanyaan yang timbul dan berkecamuk di kepala sehingga saya sepertinya hanyut dan tidak dapat fokus. Ditambah, segala aktivitas non-riset itu membuat jati diri saya sedikit memudar. Tentu saja, saya kemudian bertemu dengan seorang rekan senior. Beliau adalah seseorang yang “membantu” saya menjadi pribadi yang saat ini. Terakhir kali beliau berujar “Apapun yang kita lakukan, ada atau tidak ada hubungannya dengan keahlian kita, yang penting itu membawa manfaat. Setidaknya, kita sudah bermanfaat meskipun tidak ideal”. Kalimat beliau membuat saya kembali meluruskan niat. For the record, kalimat tersebut pertama kali dilontarkan pada 28 Januari 2016. Hari itu adalah hari dimana sepertinya proses reverse culture shock itu berhenti.

Sesungguhnya dalam beberapa tahapan kehidupan, manusia akan selalu mengalami self-questioning. Kita mempertanyakan apa yang kita lakukan, apakah sudah benar, dan segala alasan-alasan. Jika dilihat dari kacamata biologis, hal tersebut adalah kemampuan kita untuk beradaptasi dan berevolusi secara perlahan. Kita menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri dan survival of ourself. Cermati kalimat-kalimat yang keluar dari para sahabat kita. Jika kita mendengarkan dengan baik, sebagian dari kalimat-kalimat itu adalah usaha adaptasi mereka terhadap kondisi yang ada. Dan, itu sepertinya normal.

Oleh karena itu, saat ini sebelum berangkat ke tempat kerja, saya selalu memandang istri dan berkata dalam hati, “Saya akan berusaha selangkah demi selangkah, semoga dapat menghasilkan suatu karya yang baik dan bermanfaat”. Kita adalah the imperfect human.

“There is no greater satisfaction than to contribute and to have done it well” – Walter Reuther.

*Heksagon adalah sebutan untuk negara Prancis yang memiliki bentuk wilayah heksagonal jika dilihat dari peta.

Sumber gambar: http://www.choose2matter.org/

Riza-Arief Putranto, 7 Mei 2016.

 

2 thoughts on “THE IMPERFECT HUMAN

  1. Tuh kan… aku malah dapet referensi buat seleksi… :”)
    Makasih banyak mas!!!
    Semangat juga!!!
    You did a lot of unspeakable positive thing already.😀
    Selalu menginspirasi ya mas!🙂

    • Terima kasih Sanka. Mari terus berusaha, berkontribusi sebaik mungkin. Semoga segala kegalauan bisa terhempas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s