JANGAN MUDAH MENYERAH DEMI TUJUAN TERBAIK

never-give-up

Saya sebagai manusia sepertinya memang makhluk yang bebal. Beberapa kali dalam fase hidup yang naik dan turun mendapat “tanda-tanda” agar mawas dan selalu memperbaiki diri, namun lagi-lagi manusia adalah tempatnya lupa. Lebih tepatnya saya yang lupa. Sepertinya berapapun usia kita, belajar memperbaiki diri itu tidak akan pernah usai. Dan kali ini, saya kembali menapak tanah dan belajar kembali akan makna “Siapa bersungguh-sungguh, dia akan berhasil”.

Suatu pagi yang cerah, seorang sahabat, kita sebut saja Tuti, tiba-tiba menyapa. Dia mengabarkan akan sebuah pengumuman kompetisi yang baru saja diunggah secara online. Sahabat saya menanyakan kenapa saya tidak masuk dalam partisipan. Mengetahui hal tersebut, saya tegopoh-gopoh langsung membuka situs internet dari penyelenggara. Betapa terkejutnya saya ketika melihat daftar partisipan dengan para pemenang tercantum. Saya masih sangat ingat proses pendaftaran untuk mengikuti kompetisi tersebut. Kompetisi tersebut mensyaratkan seluruh proses pendaftaran hingga penilaian dilakukan secara online. Pada saat itu, entah karena kegagalan sistem, saya sangat kesulitan untuk mendaftar. Bahkan hingga mendekati waktu penutupan pendaftaran, saya tidak kunjung berhasil. Saya masih ingat bahwa saya mencoba hingga 20 kali pada waktu itu. Kemudian saya berfikir bahwa sistem yang buruk ini menimpa semua calon partisipan. Beberapa dari rekan saya mengiyakan hal tersebut.

“Bagaimana bisa?”, tegun saya. Kenapa puluhan partisipan tersebut dapat mendaftar? Apakah mereka mendaftar langsung dengan datang ke kantor penyelenggara? Lalu apa gunanya sistem online? Pikiran saya berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan. Ego saya naik. Iya, ego. Sahabat saya, si Tuti heran kenapa nama saya tidak ada. Iya, dia tahu betul bahwa saya memiliki kapasitas untuk mengikuti kompetisi tersebut dan bahkan mungkin berpeluang menjadi pemenang. Saya sendiri menyadari bahwa saya merasa memiliki kapasitas tersebut. Di tengah kebingungan tersebut, saya melihat nama seorang sahabat yang bernama Mas Jaya menjadi salah satu pemenang. Dengan niat baik untuk evaluasi diri, saya kemudian menghubungi beliau.

“The moment you’re ready to quit is usually the moment right before a miracle happens. Don’t give up”

Dalam sebuah diskusi singkat, saya menanyakan apakah Mas Jaya mendapatkan kesulitan serupa terkait sistem online dan lain-lain. Setali tiga uang, ternyata beliau mengalami hal yang sama. Namun sebuah penjelasan dari Mas Jaya membuat saya terdiam. “Iya Mas Riza, saya mengalami hal yang sama. Saya sampai mencoba instal internet browser baru beberapa kali. Saya juga mencoba koneksi internet wifi dimana-mana. Alhamdulillah saya berhasilnya malah pas di rumah menggunakan koneksi tethering dari telepon genggam. Itu juga malam hari saat saya lelah dan menjelang tidur. Setidaknya saya mencoba 200 kali mas, baru akhirnya berhasil”.

Penjelasan tersebut kembali membuat saya berpijak ke bumi. Saya kembali diingatkan. Ya Tuhan, saya menyerah setelah berusaha 20 kali? Sementara Mas Jaya melakukannya 200 kali? Ternyata memang saya lupa apa yang telah saya raih setelah perjuangan menjalani studi selama 6 tahun di luar negeri. Dimulai dengan belajar bahasa asing yang sulit dari nol hingga mencapai tingkat tertinggi. Dimulai dari nilai jeblok ketika ujian disana hingga nilai yang baik sehingga saya bisa lulus Master. Dimulai dari perjuangan berat fisik dan mental selama 3 tahun 4 bulan di laboratorium sehingga saya mendapatkan penghargaan internasional itu. Sepertinya semua itu membuat saya lupa. Semua itu membuat saya mudah berpuas diri sehingga merasa lebih pantas dari orang lain.

Mas Jaya memang berhak dengan kemenangan tersebut. Saya senang dan bahagia untuknya. Pelajaran yang sangat berharga. Hari ini saya berterima kasih kepada sahabat saya Tuti dan juga Mas Jaya yang telah menjadi pengingat. Kesempatan lain masih ada. Saya akan berusaha lebih giat dari sebelumnya. Tentu saja, saya harus lebih humble lagi. Kembali di usia yang tidak lagi 20-an, saya belajar sesuatu yang terlupa. Jika para pembaca juga mengalami hal yang sama, mari kita belajar untuk terus memperbaiki diri. “Di atas langit, masih ada langit”.

 

Sumber gambar: livelifeclever.com

Riza-Arief Putranto, 21 Mei 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s