PEMIMPIN YANG DIRINDUKAN

leadership-skills-1

Sejak kecil, saya sering mengidolakan pemimpin-pemimpin besar dari negara-negara yang saya anggap memiliki kemajuan besar. Seiring bertambahnya usia hingga remaja, saya memaknai pemimpin sebagai tolok ukur keberhasilan “komunitas” apapun yang dipimpinnya baik tim kecil, besar, institusi, perusahaan hingga sebuah bangsa. Sengsara tidaknya komunitas tersebut saya percaya terletak pada pemimpinnya. Ketika saya sudah dewasa, saya mulai belajar bahwa pemimpin itu ada di setiap diri seseorang. Setidaknya dia akan memimpin dirinya sendiri, memimpin keluarganya kelak dan syukur-syukur memimpin tim hingga bahkan mendapatkan jabatan di kantor.

Jika disimpulkan menurut beberapa kamus bahasa Indonesia, seni kepemimpinan bermakna suatu keahlian untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpin sehingga menggerakkan mereka untuk melaksanakan tujuan bersama atau tujuan dari sang pemimpin. Hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin bersifat struktural (berjenjang). Jika diringkas, pemimpin dapat diartikan sebagai “pengaruh”.

Kita sama-sama mengenal beberapa tipe pemimpin seperti tipe demokratis (mengutamakan partisipasi dan hubungan partnership dengan yang dipimpin), paternalistik (hubungan ayah dan anak), birokratis (mendasarkan arah pimpinan dengan aturan yang ada), bebas (tidak terikat oleh aturan apapun, pemimpina yang bebas), autokratis/otoriter (memanfaatkan kekuasaan mutlak), pelayan (dikenal sebagai servant leadership, mengutamakan kebutuhan orang banyak diatas dirinya) dan/atau gabungan beberapa tipe tersebut. Dari sekian tipe tersebut, saya pribadi sangat menyukai tipe yang pelayan dan demokratis. Di zaman yang serba modern dimana demokrasi berdengung sangat kencang, model pemimpin adalah pelayan sepertinya sangat dirindukan. Sifat-sifat seperti rendah hati dan perhatian merupakan sebagian penciri tipe pemimpin seperti ini.

Pagi hari kemarin, saya mendapati seorang sahabat mengunggah posting yang menarik di laman media sosialnya. Sahabat saya tersebut terharu karena mendapati mantan atasan puncak dari institusinya meminta informasi terkait nomor hp seorang karyawan. Mantan atasan tersebut berniat mengirimkan ucapan ulang tahun serta doa yang baik kepada kawan dari sahabat saya. Ketika ditanya kenapa mantan atasan tersebut sampai repot-repot mencari nomor telpon karyawannya, beliau menjawab “Ya bagaimana lagi, wong saya tidak bisa memberi balasan apa-apa, padahal teman-teman sudah berjasa bukan main ketika saya masih menjabat di kantor”. Sahabat saya mengungkapkan kepada sang mantan atasan jika dia terharu dan justru berhutang budi kepada beliau atas segala bimbingannya di masa lalu sehingga banyak karyawan yang maju. Beliau kembali menjawab, “Kalau itu memang kewajiban saya sebagai pimpinan. Jika tidak saya lakukan tentu saya tidak amanah”.

Membaca postingan sahabat saya tersebut, saya tiba-tiba diselimuti rasa “rindu”, “bahagia” dan “malu”. Pertama, saya “rindu” akan hadirnya sosok seperti itu. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua orang yang pernah memimpin saya sebelumnya, entah telah berapa lama dan langka saya terakhir mendapati sosok yang rendah hati namun berwibawa. Kedua, saya “bahagia” karena melalui pengalaman sahabat, saya jadi paham bahwa sosok seperti itu sebenarnya masih ada dan sepertinya jumlahnya tidak sedikit. Ketiga, saya “malu” karena saya merasa belum menjadi pemimpin yang seperti itu paling tidak di dalam grup riset saya maupun jabatan struktural yang tengah saya pegang. Sepotong media sosial tersebut telah membangkitkan semangat di dalam diri agar berusaha menjadi lebih baik lagi dalam memimpin apapun ke depannya.

“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader” – John Quincy Adams.

Saya paham bahwa gaya kepemimpinan hendaknya disesuaikan dengan komunitas/lingkungan dimana dia memimpin. Namun dalam kondisi non-ekstrim, saya percaya bahwa hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin itu seyogyanya bersifat partnership. Dalam partnership, sang pemimpin akan berperan sebagai whole system yang mengajak bersama-sama, menjadi penggerak di tengah-tengah sistem untuk menuju keberhasilan. Dan menurut saya, salah satu cara agar seorang pemimpin dapat menjadi partner adalah dengan mendengarkan apa kata mereka yang dipimpinnya. Ada pepatah mengatakan bahwa “Ketika berbicara kita menginformasikan apa yang kita tahu, namun kita belajar lebih banyak dengan mendengarkan”. Oleh sebab itu, alangkah indahnya jika kondisi ideal ini dapat terwujud. Semoga kita semua bisa lebih memaknai apa arti menjadi seorang pemimpin. Pilihan ada di kita, apakah ingin menjadi pemimpin yang ditakuti ataukah pemimpin yang dirindukan? It is all on us.

Sumber gambar: http://www.saxonsgroup.com.au/

Riza-Arief Putranto, 12 Januari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s