Kapan Punya Momongan

images

Entah sudah berapa ratus atau ribu kali pertanyaan tersebut kami dengar. Rasanya setiap kali kami bertemu dengan sanak saudara atau sahabat, pertanyaan tersebut selalu terlontar. Kami menyadari pertanyaan “sayang” tersebut disampaikan karena mereka semua peduli pada saya dan istri. Diantara saudara kandung dan sepupu yang menikah serta keseluruhan berjumlah 12 orang, hanya saya dan istri saja yang belum dikaruniai momongan. Andai saja mereka tahu apa yang kami alami, begitulah terkadang benak kami menjawab. Setelah melalui diskusi panjang dengan istri, kami memutuskan untuk membagi apa yang kami alami dan semoga ini bermanfaat bagi orang lain.

Semua berawal pada bulan September 2015, hampir 5 tahun kami menikah dan saya ditugaskan dinas ke Prancis selama 1 bulan untuk sebuah kerjasama penelitian. Hasrat kami untuk mendapatkan keturunan mendorong istri saya untuk check up kesehatan reproduksi. Saya sudah tiba di Prancis saat istri saya mengabarkan berita tersebut. Setelah memeriksakan diri, dokter memvonis bahwa istri saya memiliki kista sebesar 5 cm di indung telur kanan. Berita tersebut kami terima seperti petir menggelegar di siang bolong. Kalut? Tentu saja. Saya yang tidak banyak tahu tentang kista mendadak panik. Saya sangat takut. Tetiba timbul keinginan saya untuk pulang segera ke Indonesia namun itu tidak mungkin. Saya menunggu sebulan berlalu hingga tugas saya selesai.

Setibanya di Indonesia bulan Oktober 2015, saya dan istri langsung mengikuti seri konsultasi dengan ginekolog untuk menentukan langkah terbaik. USG demi USG kami jalani. Keluar masuk klinik dan rumah sakit kami lalui untuk menentukan dokter pilihan. Pilihan dokter sudah kami jatuhkan dan saran dokter adalah laparotomi, sebuah operasi seperti caesar untuk mengangkat kista dari indung telur. Dalam perjalanannya, dokter malah menemukan bahwa kistanya terdapat di kedua indung telur kiri dan kanan dengan ukuran 9 cm dan 4 cm. Kembali kami diberikan kejutan luar biasa. Tadinya kami berfikir masih memiliki peluang salah satu indung telur yang sehat untuk memberikan kami sel telur yang tidak terhalang kista. Akhirnya kami memantapkan untuk mengambil kedua kista tersebut pada bulan November 2015.

Kami bersyukur operasi berjalan lancar. Hasil analisis dokter dan lab menyatakan bahwa istri saya terkena endometriosis (kista coklat). Menurut informasi dokter, penyakit yang menyerang 20% populasi wanita di dunia tersebut belum diketahui sebabnya dan belum ada obatnya. Endometriosis adalah penyakit “asumsi”. Penyakit ini diasumsikan disebabkan karena permasalahan hormon kewanitaan, stres atau keturunan. Namun belum diperoleh bukti empiris yang benar-benar menyatakan sebab dari pemyakit tersebut. Tiap wanita yang terserang endometriosis memiliki respon tubuh masing-masing pula.

Runtutan check up dan treatment harus dijalani istri saya lagi selama 6 bulan pasca operasi (Desember 2015 – Mei 2016). Istri mulai terapi Tapros untuk menghentikan siklus bulanan dan siklus hormon. Istri juga menjalani beberapa kali tes hormon dan tes darah. Percayalah, semua tahapan tersebut menguras baik pikiran, tenaga dan materi. Saya sempat ragu bahwa kami dapat menanggung seluruh biaya tersebut. Namun Tuhan selalu memberikan rezeki dari arah yang tidak kami sangka. Seluruh tes dijalani istri dan hasilnya bagus. Tidak ada masalah. Justru disitu letak keanehannya. Kandungan hormon istri saya normal. Endometriosisnya ternyata tidak disebabkan oleh keadaan hormon. Kami tidak ambil pusing. Program kehamilan pun kami jalankan mengikuti saran dokter.

Pada bulan Juli 2016 kami tidak mengunjungi dokter untuk check up rutin karena terhalang libur lebaran. Pada bulan Agustus 2016 kami kembali mengunjungi dokter dan betapa tekejutnya kami mengetahui bahwa kista tumbuh lagi sebesar 4 cm di indung telur kiri. Dokter menenangkan kami dan menyampaikan bahwa semoga itu hanya kista fungsional yang nantinya akan hilang sendiri. Setiap bulan kami check up dan mendapati kista semakin membesar hingga kami memutuskan untuk mencari dokter lain untuk meminta second opinion. Kami merasa dokter kami ini tidak lagi informatif.

Pada bulan Desember 2016 kami mendapati kista tumbuh kembali di kedua indung telur dengan ukuran 6 cm dan 5 cm saat check up ke dokter. Saat itu, perasaan kami hancur. Kami sama sekali tidak terinformasi bahwa kista yang sudah diangkat dapat tumbuh kembali. Dokter pendahulu tidak memberikan kami peringatan apa-apa dan bahkan kami baru mengetahui beberapa pantangan makan yang sebetulnya tidak boleh dikonsumsi penderita endometriosis. Setiap kali kista tersebut tumbuh istri saya selalu mengalami sakit punggung yang tidak nyaman. Keesokan harinya saya mengambil cuti dari pekerjaan kantor. Saya dan istri memutuskan untuk pulang kampung menemui orang tua kami. Kami ingin menenangkan diri dan memohon doa dari mereka.

Pada bulan Januari 2017, kami memutuskan untuk mengkonsumsi herbal. Kami mencoba beberapa ramuan herbal dari rekomendasi teman atau dari hasil mencari informasi. Kami belum siap jika harus naik ke meja operasi lagi. Sembari usaha herbal tersebut kami juga tetap melakukan check up dokter. Pada bulan Februari 2017, hasil USG menunjukkan pengecilan ukuran kista dan kami sangat senang. Kami percaya bahwa pengobatan herbal tersebut berhasil. Namun pada bulan Mei 2017, penampakan USG memperlihatkan penambahan ukuran kista kiri kanan 7 cm dan 5 cm. Kami kembali jatuh. Pengobatan herbal selama 4 bulan tersebut gagal. Bulan-bulan berikutnya kami ikhtiar dengan obat medis hingga saat ini.

Kami menyadari bahwa setiap pasangan diberikan cobaan masing-masing dalam hidupnya. Melalui kejadian ini kami mengambil hikmah untuk berhenti membandingkan kondisi kami dengan orang lain. Melalui kejadian ini kami menyadari betapa eratnya rasa cinta diantara kami berdua dan diantara keluarga. Permasalahan kami ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang lebih kurang beruntung. Permasalahan ini juga tidak menghalangi saya dan istri untuk berbahagia. Tuhan tidak akan memberikan beban yang tidak sanggup kami pikul dan rencanaNya selalu lebih indah dari rencana manusia. Oleh sebab itu hanyalah usaha dan doa yang bisa kami panjatkan.

Kepada sahabat, handai taulan, yang kami minta tidaklah banyak hanya sejumput pengertian dan doa. Semoga lebaran tahun depan saya diperkenankan Tuhan untuk menjawab pertanyaan “Kapan Punya Momongan”. Jika belum, tidak mengapa. Semua akan indah pada waktunya.

Sumber gambar: https://www.brainyquote.com

Riza-Arief Putranto, 26 Juni 2017.

Advertisements

6 thoughts on “Kapan Punya Momongan

  1. Semua indah pada waktunya. Mungkin sekarang waktunya dua-duaan dulu, waktunya saling menguatkan, waktunya jadi saluran berkat untuk ponakan-ponakan.
    Semoga kalian berdua selalu diberi kesehatan dan umur panjang ya.

    • Terima kasih Echy sudah mampir. Iya mungkin saat ini kami masih menjadi berkat untuk yang lain terlebih dahulu. Aamiin untuk doanya. Semoga Echy dan keluarga sehat selalu 😊

  2. Dear mas Nicholas
    Salam

    Terimakasih telah berbagi. Mudah-mudahan Allah swt memberi kebaikan yang banyak dibaliknya, sebab rahmat dan penghapus dosa-dosa, serta pengabul semua doa.

    Saya belum menikah, tetapi mengikuti hal-hal seperti ini oleh pengalaman dan kondisi teman-teman, sehingga sedikit banyak memaklumi. Mudah-mudahan, sharing komentar (panjang) berikut bisa berkenan dan bisa bermanfaat.

    Seorang cendekia muslim pernah berkata,
    -Pasangan yang tidak (belum) dikaruniai anak itu sedih. Tetapi, lebih sedih lagi mereka yang memperolehnya namun meninggal saat lahir atau ketika masih kecil.
    -Yang meninggal anaknya masih kecil itu sedih. Tetapi, lebih sedih lagi yang punya anak namun meninggal setelah dibesarkan.
    -Yang paling sedih adalah mereka yang punya anak, tetapi setelah dibesarkan, anak itu durhaka. Ini, kesedihan yang luar biasa, melebihi semua kesedihan sebelumnya.

    Itu sebabnya Allah berpesan untuk lebih mengharapkan amalan takwa,
    “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” ~QS. Al-Kahfi (18):46.

    Terkait anak, Allah telah memberi contoh yang lengkap dalam Al-Qur’an sebagai teladan, diantaranya:
    – Penciptaan Adam dan Hawa (as.) tanpa orang tua.
    – Penciptaan Isa as. dengan hanya Ibu saja.
    – Kelahiran Ismail as. dan Ishak as. oleh Ibu-Bapak (Ibrahim as.) yang mandul dan sudah sangat tua. Demikian pula Yahya as.

    Sebagian contoh-contoh di atas adalah pelajaran untuk setiap pasangan, agar tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Ketika Allah berkehendak, maka Kun Faya Kun, tapa perlu ada sebab akibat.

    Mungkin mas Nicholas bisa membaca kisah Ibrahim as. dan Zakaria as. serta Maryam as. dalam Al-Qur’an secara khusus dan detil, karena penuh hikmah serta doa-doa yang sangat indah. Misalnya ketika Zakaria as. berdoa,

    Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu” ~QS. Maryam, 19:4-5.

    Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”
    (Allah) berfirman, “Demikianlah” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali”
    ~QS. Maryam, 19:7-8.

    Begitulah, dan banyak contoh-contoh lain.

    Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman ~Qur’an, Hud, 11:120.

    Demikian Al-Qur’an sebagai obat (hati), peringatan, dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.

    Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dala dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman ~Qur’an, Yunus, 10:57.

    Mudah-mudahan komentar ini tidak panjang-panjang bngt, atau mudah2an bisa berkenan.

    Salam

    • Merci beaucoup Situmecrois atas nasehat dan masukannya. Tentu saja sangat berkenan untuk selalu diingatkan. Semoga menjadi pahala kebaikan untuk kita semua.

      Salam hangat,
      Riza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s