KARYAWAN CERDAS, ANUGERAH ATAU BEBAN?

Picture1

Sebuah artikel berjudul “By Hiring Smart Employees, Are You Willing To Take Their Advice?” yang ditulis oleh Maureen Boyle dari Boyle Consulting menarik perhatian saya hari ini. Sebuah “teguran” menarik dari Maureen yang menyatakan bahwa hampir seluruh perusahaan/institusi selalu menginginkan untuk dapat merekrut karyawan terbaik dengan CV setinggi langit. Kita sering mendengar adanya permintaan IPK yang tinggi dan segudang pengalaman yang menjadi syarat utama. Namun, benarkah perusahaan/institusi tersebut siap dengan hal tersebut?

Steve Jobs pernah menyatakan bahwa tidak masuk akal untuk mengangkat karyawan yang cerdas dengan performa selangit kemudian kita mengatur apa yang harus dia lakukan. Menurut Steve, karyawan cerdas dibayar untuk justru memberi masukan kepada manajemen apa yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan capaian dan memberikan manfaat kepada perusahaan/institusi. Perusahaan Apple menjadi salah satu perusahaan tersukses di dunia berkat konsep tersebut.

It doesn’t make sense to hire smart people and then tell them what to do; we hire smart people so they can tell us what to do.” ― Steve Jobs

Tentu saja semua kembali kepada perusahaan/institusi tersebut, bagaimana manajemen bekerja dan bagaimana kondisi politis/kebijakan dari perusahaan/institusi tersebut. Meskipun demikian, tidak salah rasanya mengatakan bahwa terkadang kita menginginkan seorang karyawan yang cerdas dan super namun kita tidak siap “menerima” konsekuensi dari kecerdasan tersebut. Konsekuensinya tentu berwujud pada sikap kritis, inovatif, dan idealisme. Pengalaman Maureen Boyle dalam artikelnya memperlihatkan bahwa kecerdasan, kreativitas dan inovasi dengan ide-ide baru terkadang dinilai sebagai sikap berlawanan dengan manajemen. Di sisi lain, kecerdasan IQ seseorang terkadang pula tidak diikuti oleh kecerdasan EQ sehingga tidak selalu manajemen disalahkan.

Namun dalam kondisi ideal, jika kecerdasan identik dengan tingkat pendidikan, maka konsep diatas dapat diilustrasikan sebagai berikut: mengatur dan mengajak 100 pegawai dengan pendidikan setingkat sarjana untuk mencapai satu tujuan tertentu relatif lebih mudah dibanding mengajak 10 PhD untuk melakukan hal yang sama. Kesepuluh PhD tersebut akan memiliki 10 cara untuk mencapai tujuan tersebut dan tentu saja menimbulkan komplikasi pada sistem. Memimpin kesepuluh PhD tersebut tentu bukan hal yang mudah. Di sisi lain, memiliki karyawan yang cerdas dan kreatif namun tidak memberikan “tempat” baginya berkreasi atau menempatkannya pada posisi yang tidak sesuai juga merupakan hal yang sia-sia. Lebih sia-sia lagi ketika manajemen memanfaatkan karyawan tersebut untuk mengerjakan tugas non-profesional.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa seorang entrepreneur sejati hanyalah fasilitator dari karyawan-karyawan cerdas yang direkrut. Pada akhirnya, memiliki karyawan cerdas dalam perusahaan/institusi itu anugerah atau beban?

Disclaimer. Tulisan ini merupakan renungan dan opini pribadi yang didasarkan pada hasil pengamatan serta cerita dari kolega-kolega sang penulis. 

Sumber gambar: http://cdn1.theodysseyonline.com

Riza-Arief Putranto, 24 Oktober 2017.

 

Advertisements

2 thoughts on “KARYAWAN CERDAS, ANUGERAH ATAU BEBAN?

  1. Steve Jobs pernah menyatakan bahwa tidak masuk akal untuk mengangkat karyawan yang cerdas dengan performa selangit kemudian kita mengatur apa yang harus dia lakukan.

    Kayaknya di Indonesia yg bisa menerapkan seperti itu adalah yg bergerak di industri kreatif. Kalau di instansi kebanyakan karyawan itu ya pekerja.

    • Opini ini bener Chy, industri kreatif sepertinya paling ideal. Konsep karyawan adalah pekerja tidak salah namun juga kadang menjadi monoton terlebih di zaman sekarang perusahaan harus kreatif agar bisa survive 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s